Jokowi’s “Blusukan” Cost

A lot of media nowadays makes an extra view of this topic. “Blusukan” which we can say as “surveying to the field,” the system that Jakarta’s governor does to know direct situation for many problems in Jakarta town.

This is not a new thing in leadership and managing the town problem. In early era of Indonesia independent, our first President, Ir. Soekarno had always done this way to find the true problem in many cities and take a direct solution. Also, many governor or town major nowadays do this way. But, it looks different with Jokowi. He has his own unique way in his “blusukan.”

This leader does attract directly to the people and ask for what they want just like a friend. Different with many other leaders who are very exclusive and untouchable by people, Jokowi shows himself as “a usual person” same as them. This makes many people love him and like his leadership way. Sometimes he also does a strange thing in his “Blusukan” activity. He doesn’t fear to go down to the dirty ditch to know the actual condition. He walks on a flood area casually and don’t think about the dirt he will get. Continue reading

Contest? It’s not just about the winnings

There are several contest on internet. Whether it’s free or not. We can join all of them with following the requirement. It’s very easy to join every contest which is published on internet. But to win it, it’s different part.

We have to do the contest with our best effort. Never think to win the contest with usual effort. There’s trick to win the contest, but sometimes luck takes the role too.

I don’t want to discuss about winning the contest, more of that there are many important things we must consider before following the contest. Some of us never though about this, but true it’s very important. First time I really didn’t pay attention to this part, I followed many contest, tried my best to win every contest, prayed for that etc. What now, I always lost. Yeah, it was true. Maybe I will call myself “loser.” But from that, I can learn something precious. These are some matters you have to consider before following the contest. Continue reading

Jakarta must be crazy

The first time I saw news about Jakarta, I wasn’t concerned about it. I though it was just like before, just another flood season. But at the second time, I really shocked. That was crazy. Even in the main city was full of water too. HI Circle Traffic was also flooded. Wow, this wasn’t another flood season like I had though before. This was really terrible.

source: http://media.viva.co.id/thumbs2/2013/01/18/188690_banjir-lumpuhkan-jakarta-utara_663_382.jpg Continue reading

Berbekal Notebook Kecil & Internet Pas-pasan

Back to 1970’s, remember the memories? I don’t think so, cause you and I really don’t know and feel the day that time.

Yeah, tahun 70an, boro – boro mau mengingat masa – masa di jaman itu, lahir aja belon, ngawur ah. But, dengan kemajuan teknologi dan sedikit usaha, hari gini kita bisa dengan mudah tahu sampai ke akarnya apa saja yang telah terjadi di masa itu, peristiwa – peristiwa bersejarah, dan lain lain. Cukup siapin laptop/pc/handphone trus hubungin ke internet, dunia sudah ada di genggaman kita. Inilah teknologi yang kian hari kian mengerti dan memudahkan segala urusan manusia.

Sentuhan teknologi telah merambah pada setiap segi kehidupan manusia tanpa terkecuali. Di zaman sekarang, tidak ada yang tidak hidup berdampingan dengan teknologi, kita telah candu dan sangat bergantungan padanya. Bayangkan jika dalam satu hari kita tidak menyentuh telpon selular, tidak menyalakan tv, tidak menggunakan transportasi canggih, tidak bekerja dengan komputer, bayangkan apa yang terjadi jika kita kembali ke zaman 70an, dimana semua pergi bekerja dengan kendaraan seadanya, bahkan berjalan kaki, setiap orang harus mengirim surat yang sampainya bisa berbulan – bulan hanya untuk menanyakan kabar saudara yang ada di daerah tetangga, bayangkan para karyawan harus membuat dokumen dengan mesin tik yang jika ada setitik kesalahan maka pekerjaan harus dimulai lagi dari awal. Imagine it. Continue reading

Terima Kasih Para Pendemo

Satu – satunya barisan pro rakyat yang murni dari hati nurani tanpa sedikitpun bias – bias kepentingan individu atau kelompok ialah “Barisan Pendemo Mahasiswa.” Kita telah melihat dengan jelas bagaimana mereka mengerahkan segenap semangatnya demi memperjuangkan dan membela hak rakyat. Tanpa peduli akan keselamatan sendiri, mereka maju dengan gagah berani. Terkadang, aksi mereka dipandang sebelah mata sebagai bentuk kebodohan para intelektualis. Aksi – aksi anarki yang selalu menghiasi jalannya demonstrasi menjadi sorotan utama atas ketidakcerdasan para mahasiswa dalam bertindak, padalah itulah senjata terakhir demi menyuarakan jeritan rakyat yang tersiksa. Apa mau dikata, ibarat membunyikan percon di dalam kaleng, anarkisme adalah bentuk nyata suatu sikap yang selalu “diacuhkan” dan dianggap “remeh” oleh mereka yang berkuasa.

Pada teorinya, memang tidak ada yang menginginkan demonstrasi berjalan ricuh, penuh kekerasan dan anarkisme. Pun andaikata “mereka para elite” lebih peka menghadapi protes dan suara aspirasi yang telah meledak, semua hal buruk itu tidak mungkin akan terjadi. Tapi kenyataannya memang tidak, sehingga hal seperti inilah yang terjadi.

Begitu mengerikan untuk berada di sana, di saat semua bagaikan medan peperangan. Tapi tanpa henti mereka terus bertahan bahkan berani melawan. Entah apa yang merasuki mereka saat itu. Yang pasti kemarahan dan kekesalan yang tidak tertahankan lagi telah mereka luapkan dengan aksi – aksi buruk itu. Bagaimana intelektualitas yang mereka miliki? Bukankah mereka adalah kaum terpelajar yang tidak seharusnya melakukan hal – hal tersebut. Bukankah mereka harus lebih berdiplomasi dan bernegosiasi secara damai?

Inilah bentuk “hati nurani” yang telah menyingkirkan semua “teorema intelektual.” Mereka membuang semua embel – embel “terpelajar” dan semua atribut yang tegas melarang mereka berbuat buruk. Tapi sekali lagi, berterima kasihlah kepada mereka. Mereka rela menjatuhkan semuanya, meruntuhkan harga diri sebuah intelektual hanya “demi memperjuangkan rakyat.” Mereka sungguh pahlawan Indonesia. Hanya demi rakyat.

Mereka korbankan jiwa dan darah mereka.

Sungguh, demi rakyat…

Tidakkah kita berterima kasih pada mereka? Seandainya mereka tidak ada, siapa lagi yang dengan lantang akan berada di garis paling depan murni demi rakyat? Siapa yang bisa dipercaya di zaman penuh kepentingan seperti sekarang ini?

Sekali lagi kuucapkan, “terima kasih para pendemo…” 

 

Play Old Games, It’s better

When I get bored, the best solution is playing games. At previous time, when I was  still high schooler, playing games was the important thing for me, it bacame essential need for my daily life,hahaha. No day if no games. Games made me addictive with them. But nowadays, I feel like a foolish man to play games. No time for that dull thing. Continue reading

2011 will over soon

10 months have passed. It’s time to the new year again, so fast, isn’t it? But the most important thing is “have you chase all of your wish in this year? your goal? or maybe your dream?” For me, really… there’s just a bit of goal which I get till this time. There are many more, and I have no time to chase them all for this end of year. So, I think I will continue in next year. But I will push my self to do the best for the rest of this time. Continue reading