Jakarta Itu Aneh!

Zaman sekarang ini kita bisa dengan mudah tahu apa saja yang kita inginkan, inilah zaman internet. Mau tahu kabar teman di luar negeri, tinggal buka jejaring sosial, mau tahu kabar negara luar tinggal buka situs-situs berita internasional, mau tahu apa saja mudah sekali. Nah, mau tahu kabar Jakarta juga gampang, mulai dari penduduk, ekonomi, transportasi, politik, ini yang paling panas saat ini, kebetulan beberapa minggu yang lalu Jakarta sudah melakukan Pilkada putaran pertama, dikatakan putaran pertama karena belum ada pemenang mutlaknya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya di putaran kedua, yang jelas kita semua mengharapkan pemimpin yang terbaik untuk rakyat Jakarta, tidak peduli orang dari mana, seperti apapun orangnya, bekumis atau jenggotan atau tidak kedua-duanya, yang penting amanah dan tahu posisinya sebagai pemimpin, bukan sebagai pemanfaat keadaan. Yak, yang pasti informasi bisa dengan mudah kita dapat saat ini.

sumber: http://tempo.co/

Bicara soal Jakarta, kebetulan saya ini bukan orang Jakarta, tapi pernah sekali kesana, itu pengalaman pertama yang cukup berkesan. Pengalaman berkesan itu dimulai saat menuruni kapal di Pelabuhan Merak. Menuju jalan tol dan memasuki Jakarta. Begitu lepas dari bibir tol, pemandangan dasyat mulai terlihat, ada ribuan mungkin sampai puluhan ribu kendaraan yang memadati jalanan kota, karena ini pengalaman pertama, hal tersebut dibawa seru-seruan saja. Untunglah kemacetan tidak begitu lama, sekitar 2-3 jam mobil bisa berjalan dengan nyaman lagi. Pemandangan kota metropolitan memang cukup dasyat, tidak ada kota lain di Indonesia yang memiliki gedung-gedung pencakar langit yang sangat banyak seperti di Jakarta, jalan-jalan yang berlapis-lapis juga menambah indah pemandangan kota, namun tidak sedikit pula rumah-rumah kumuh menghiasi dataran Jakarta, semuanya hidup berdampingan, kesenjangan terhebat yang pernah saya lihat. Mobil-mobil mewah menghiasi jalanan Jakarta, gerobak tua pun tidak jarang terlihat melintas, ini fenomena yang sangat memprihatinkan di benak saya.

Sudah cukup lama mengitari kota Jakarta, singgahlah di suatu tempat. Dan ini juga pengalaman pertama saya menapakkan kaki di tanah Jakarta. Begitu keluar mobil, terasa sekali “panasnya cuaca” langsung menusuk badan. Mungkin karena hari sudah siang, kira-kira pukul 11-12 siang. Langit terlihat pekat kekuningan, udara sesak dan sangat mengerikan. Saya mulai sadar akan polusi yang begitu parah di Jakarta hingga langit biru sama sekali tidak nampak. Penglihatan saya jadi kemerahan dan pusing, mungkin karena belum terbiasa. Perjalanan kembali dilanjutkan, dalam benak saya terus tergemang “Jakarta kota yang aneh” sembari memandangi gedung-gedung yang berdampingan dengan rumah kumuh. Mungkin saya tidak akan bertahan lebih lama dari 2-3 bulan di kota ini jika memang harus tinggal disini.

sumber: koleksi pribadi

Itulah pengalaman pertama saya datang ke Jakarta, tidak menyenangkan, padahal saya berharap lebih dari apa yang hanya saya sering lihat di media selama ini. Bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta mungkin hal itu adalah biasa, tapi bagi saya ini sangatlah aneh dan konyol. Ada apa dengan Jakarta? Betah sekali orang-orang tinggal disini? Terpaksakah? Demi mencari nafkahkah? Ada yang tidak beres dengan kota ini, bukan satu dua hal, banyak sekali yang tidak beres pada kota ini. Dan mungkin berlarut terus untuk tidak dibereskan, dibiarkan, bukan karena tidak mampu, tapi karena ada kepentingan lain, itu pendapat pertama saya saat melihat hal yang tidak beres seperti ini.

Kita lihat Tokyo, Seoul, atau New York dan kota-kota besar di Amerika Serikat, pola pengembangan kotanya mendekati atau persis dengan Jakarta, atau sebaliknya Jakarta meniru pola pengembangan kota-kota tersebut. Namun, ada satu perbedaan signifikan, yaitu keteraturan. Di Jakarta, kita tidak akan pernah menemui keteraturan seperti yang ada pada kota New York misalnya. Semua dibiarkan saja berjalan sendiri yang pada akhirnya menimbulkan kekacaubalauan seperti benang yang semakin kusut. Bagaimana seharusnya sebuah kota berdiri dengan segala keteraturannya? Tentu ada ribuan ahli Teknik Sipil, Planologi, Tata Kota, Arsitektur dan ahli-ahli lainnya yang mengetahui dengan detail perencanaan kota dan sistemnya di tanah air kita, bahkan mahasiswa sekarang sekalipun bisa dengan detail memprediksikan dan member jalan penyelesaian.

Dikatakan kompleks, memang benar. Permasalahan di Jakarta harus diselesaikan secara holistik, tidak terpisah-terpisah. Masyarakat sebagai penderita utama juga harus memberikan sumbangsih yang tegas untuk memperbaiki Jakarta, tidak dapat melepas tanggung jawab sepenuhnya pada ahli dan pemerintah. Sebagai warga yang hidup, beraktivitas dan membangun Jakarta, masyarakat Jakarta juga harus bertanggung jawab terhadap kacaunya Jakarta saat ini. Ini bukan lagi permasalahan siapa yang salah, tapi sudah masuk tahap semua harus bertanggung jawab.

Jakarta dan Politiknya

Jika berbicara masalah dapur politik kota Jakarta, sudah dapat kita tebak secara kasat mata, walaupun para pelakonnya akan dengan gambling berkata “Anda tidak dapat menghakimi sesuatu tanpa bukti dan data yang jelas.” Tentu, data adalah bukti ideal jika kita ingin memutuskan atau menghakimi suatu hal, namun kita tidak perlu secara persis mengutarakan semua itu untuk membuat suatu kesimpulan sosial, hukum sosial berjalan sesuai perilaku sosial. Masyarakat yang tidak mendapat faedah dari kepemimpinan seseorang tentu dapat dengan cepat menghakimi pemimpinnya tidak baik. Hal ini terjadi pada setiap daerah, kota maupun negara mana saja.

Secara umum, politik di Indonesia memang tidak sedap dirasa dari zaman orde baru, reformasi hingga saat ini, bahkan jiwa reformis era 98an ikut terkikis oleh “kesempatan” emas di ranah politik. Kekuasan yang begitu nyaman dan kokoh membuat orang lupa akan hakekat sebenarnya. Peluang yang didapat sebagai penguasa membuat seribu pintu terbuka untuk memperkaya diri dan keluarga hingga 7000 keturunan (bukan lagi 7 keturunan), aliran duit haram yang didepositkan dalam bentuk investasi dan simpanan yang menyebar ke seluruh dunia tidak dapat lagi dilacak oleh penegak keadilan, bahkan penegak keadilan itu juga dapat dibungkam oleh sedikit ludah dari uang haram yang nilainya tiada tara. Inilah kenyataan yang sangat miris, yang melukai hati orang-orang yang seharusnya disayangi oleh penguasa, memiskinkan yang sudah miskin, membuat gelandangan semakin merebak, keadilan pun lenyap tertutup kabut tebal kejahatan para pemimpin yang dzalim.

Gema politik atau Politik Wave atau bisa juga kita ngetrenkan menjadi PoliticaWave, memang tidak menggema dengan syahdu di negeri ini. Di seluruh media, baik tv, koran, internet selalu mengabarkan angin panas akan busuknya politik di negeri ini. Politik yang hakikatnya untuk menegakkan keadilan menjadi rusak berantakan citranya. Padahal, apa yang diharapkan rakyat tidaklah terlalu muluk-muluk, mereka hanya menuntut keadilan dan kesejahteraan. Bisa makan secukupnya, mendapat tempat tinggal yang sehat, pekerjaan yang adil, anak-anaknya bisa bersekolah dengan riang. Kehidupan masyarakat Jakarta dan Indonesia secara umum sangat sederhana, hanya saja sekarang dibuat-buat menjadi rumit. Karena itu, kadang setiap kali PoliticaWave mencuat dimedia massa, rakyat geram dan sering marah, inilah kenyataannya.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_organ_gerakan_mahasiswa_1998

Lihatlah kota maju seperti Tokyo, Seoul atau New York, semua tertata rapi. Model pengembangan kotanya selaras dengan penduduknya. Jakarta terlanjur mengikuti pola kota modern seperti dua kota-kota itu, namun terlalu “naïf” untuk persis sepertinya. Jakarta memang naïf untuk menjadi secanggih Seoul atau New York, namun jika melihat perkembangannya saat ini, sudah tidak dipungkiri lagi bahwa Jakarta harus menuju pengembangan yang seperti itu. Tatanannya harus diselaraskan dengan kota-kota itu. Kembali lagi pada para penguasa, maukah mereka melakukannya?

Denyut Jakarta

Hal paling krusial yang menjadi sorotan kota modern adalah transportasi. Transportasi menjadi tulang punggung hidupnya aktivitas masyarakat. Transportasi ibarat jantung, jalan adalah jaringan dan urat nadi, darah sendiri adalah para commuters. Idealnya kemacetan di kota modern tidak pernah terjadi. Dan hal sederhana yang semestinya dapat menyelesaikan kemacetan adalah, pertama transportasi publik yang baik dan terintegrasi, kedua pembatasan kendaraan pribadi dengan pajak yang tinggi, ketiga hentikan pembangunan jalan yang hanya akan memacu orang untuk memiliki kendaraan pribadi, keempat sosialisasi yang menyentuh masyarakat dan kelima penegakan hukum yang tegas. Ini hal paling mendasar dan umum dalam penyelesaian masalah transportasi.

Di New York, transportasi umum menjadi primadona dan utama, ada subway, bus dan kereta serta kapal ferry yang menunjang aktivitas warganya, semua terintegrasi dengan baik. Perjalanan jarak jauh ditempuh dengan kereta atau ferry, perjalanan agak jauh dengan subway, perjalanan dekat dengan bus, dan yang menjadi sorotan adalah jalanan yang penuh dengan para pejalan kaki. Tentu hal ini berkebalikan dengan kota Jakarta yang selalu sesak dengan mobil pribadi.

sumber: http://www.visitingdc.com/

            Tidak jauh berbeda dengan New York, Seoul dan Tokyo juga menerapkan transportasi umum pada posisi wahid. Masyarakat tidak perlu pusing memikirkan datang kerja terlambat akibat macet. Seperti itulah kota modern seharusnya, tidak ada yang rumit, tidak perlu memikirkan hal-hal tinggi yang tidak bisa dimengerti masyarakat, yang diperlukan hanyalah penyediaan transportasi publik yang baik. Jalan tol atau jalan bebas hambatan atau jalan-jalan baru lainnya bukan solusi untuk menyelesaikan kemacetan, itu hanya meredakan sesaat, kemudian masalah akan bertambah parah.

Pembatasan jumlah kendaraan dengan pajak yang tinggi membuat orang berpikir dua kali untuk membeli mobil. Mudahnya memiliki mobil dan rendahnya pajak kepemilikan membuat orang berbondong-bondong membeli mobil lebih dari satu. Mulai dari nenek sampai cucu di satu rumah punya mobil sendiri-sendiri, akibatnya jalan lingkungan saja yang hanya berukuran 2 meter sesak oleh mobil. Pemimpin harus berani melakukan hal ini, jangan selalu ditekan dengan pihak tertentu. Dan jangan memikirkan kantong sendiri demi memuluskan jual beli mobil di tanah air. Sebenarnya siapakah yang menjadi raja? Pemimpin kota atau pengusaha?

Sosialisasi harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat jika ingin transportasi publik yang telah dibangun langsung diserbu masyarakat. Masyarakat harus disadarkan akan pentingnya bertransportasi massal. Lalu, hukum harus ditegakkan dengan adil, semua yang bersalah ditindak sesuai aturan, tidak perlu lagi ada oknum penegak hukum yang membebaskan pelanggar demi 10 ribu rupiah, mau dikemanakan wajah Kota Jakarta yang katanya megapolitan dan modern itu?

Bukan tidak mungkin Jakarta menjadi kota dengan transportasi terbaik di Indonesia, semua telah tersedia, jalan telah terbangun dengan sangat baik, tinggal penyediaan transportasi massal yang nyaman disebar ke seluruh pelosok kota. Pemerintah jangan pelit uang untuk sarana transportasi, jika pun tidak ada uang yang cukup, bisa bekerja sama dengan pihak swasta. Tidak ada yang tidak mungkin kalau pemimpinnya mau.

sumber: http://niketalk.yuku.com/

Copy the Master

Banyak hal lain yang bisa ditiru dari kota-kota di luar negeri. Tidak perlu membuat hal baru yang rumit dan memakan waktu, Jakarta cukup mencontoh kota yang berhasil untuk pulih dari penyakitnya. Sekali lagi hal itu tidak akan berarti jika politik yang sedang dimainkan adalah politik keuntungan pribadi.

Istilah “copy the master” bukan lagi hal umum di dunia, semua telah menerapkannya dan terbukti berhasil, tinggal semangat dan konsistensi yang tinggi yang harus dibangun agar dapat menjalani praktek percontohan ini. Dalam segala hal teori ini dapat dilakukan, bahkan untuk membangun kota sekalipun. Keberhasilan yang diulang, “lakukan sasuatu, jika hal itu berhasil, ulangi.”

Jakarta harus dibangun dengan sehat dan menyelaraskan penduduknya. Memang tidak semua hal harus kita contoh atau copy dari kota lain, jika menjiplak total, jelas Jakarta akan kehilangan identitasnya. Jakarta harus dibangun dengan budaya lokal. Pemerintah tidak bisa serta merta menjadikan kota Jakarta penuh dengan mall-mall mewah dan melupakan pasar tradisional. Keselarasan harus diterapkan. Pasar tradisional yang terkesan kumuh, kotor dan jorok jelas bukan identitas, tapi keberadaannya itulah yang merupakan identitas. Kumuh, kotor dan jorok itu adalah masalah yang harus diselesaikan. Pedagang kaki lima juga merupakan identitas, namun keberadaannya yang mengganggu dan mengotori itu bukan identitas, itu adalah masalah. Identitas kerakyatan yang ada di Jakarta harus dilestarikan bukan dibunuh, ini yang akan membuat kota ini berbeda dari kota manapun. Tinggal bagaimana menatanya dengan baik, diberi ruang yang tepat dan dijaga serta diawasi dengan baik adalah tugas pemerintah.

Kota-kota diseluruh dunia dibangun atas dasar identitas mereka masing-masing. New York yang modern sekalipun dibangun dengan identitas rakyatnya sendiri. Mekah dan Madinah di timur tengah, Dubai, Istanbul, Paris, London, Baghdad, Damascus, Venesia dan banyak lainnya. Semua kota ini dibangun dengan identitasnya masing-masing. Jakarta pun harus demikian.

Bagaimana membangun Jakarta yang beridentitas, mulai dari diri kita masing-masing. Pemimpin dan rakyat Jakarta harus memiliki identitas. Jakarta milik kita bersama, kita warga Jakarta, kita bangun Jakarta bersama-sama. Kita warga Jakarta, kita bangsa Indonesia, beradat Timur, itulah identitas kita, kini kita bangun dengan identitas itu. Bukankah dulu waktu kita masih SD kita diajarkan akan identitas rakyat Indonesia yang sangat kental, yaitu “gotong royong.” Hal inilah yang telah kita lupakan selama ini, apakah perlu kita kembali ke bangku SD untuk mempelajarinya lagi? Gotong royong dalam membangun kota ini, itulah yang tidak pernah dilakukan Jakarta.

sumber: http://pusat.jakarta.go.id/

Jakarta is Us!

Marilah, bersama-sama, baik rakyat Jakarta maupun di luar ikut memberikan sumbangsih bagi Centre of Indonesia ini, karena jika Jakarta lumpuh, secara otomatis seluruh tanah air akan lumpuh, ibukota negara harus tetap berdiri kokoh. Sebagai seorang blogger, hal ini termasuk sumbangsih saya kepada Jakarta. Bukan untuk apa-apa, tapi demi menjadikan Jakarta sehat dan sembuh dari penyakit-penyakitnya. Saya mencintai Jakarta walaupun bukan orang Jakarta, saya mendambakan 5 atau 10 tahun lagi Jakarta telah sejajar dengan kota-kota berhasil di seluruh dunia, dan saya akan mengijakkan kaki disana dengan penuh kebanggaan dan rasa senang. Bukan dengan penuh emosi, ketidaknyamanan dan rasa was-was akan keamanannya seperti saat ini.

Semoga pemimpin Jakarta kedepan memiliki identitas dan membangun Jakarta sesuai identitasnya. Semoga pemimpin Jakarta kedepan tidak terombang-ambing oleh politik mencari keuntungan. Dan semoga kita bersama-sama dapat membangun Jakarta lebih sehat dan lebih baik dari sebelumnya. Amin ya Rabbal Alamin.

Jangan golput ya! Tidak peduli pada Jakarta = tidak peduli diri sendiri.

6 thoughts on “Jakarta Itu Aneh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s