Terima Kasih Para Pendemo

Satu – satunya barisan pro rakyat yang murni dari hati nurani tanpa sedikitpun bias – bias kepentingan individu atau kelompok ialah “Barisan Pendemo Mahasiswa.” Kita telah melihat dengan jelas bagaimana mereka mengerahkan segenap semangatnya demi memperjuangkan dan membela hak rakyat. Tanpa peduli akan keselamatan sendiri, mereka maju dengan gagah berani. Terkadang, aksi mereka dipandang sebelah mata sebagai bentuk kebodohan para intelektualis. Aksi – aksi anarki yang selalu menghiasi jalannya demonstrasi menjadi sorotan utama atas ketidakcerdasan para mahasiswa dalam bertindak, padalah itulah senjata terakhir demi menyuarakan jeritan rakyat yang tersiksa. Apa mau dikata, ibarat membunyikan percon di dalam kaleng, anarkisme adalah bentuk nyata suatu sikap yang selalu “diacuhkan” dan dianggap “remeh” oleh mereka yang berkuasa.

Pada teorinya, memang tidak ada yang menginginkan demonstrasi berjalan ricuh, penuh kekerasan dan anarkisme. Pun andaikata “mereka para elite” lebih peka menghadapi protes dan suara aspirasi yang telah meledak, semua hal buruk itu tidak mungkin akan terjadi. Tapi kenyataannya memang tidak, sehingga hal seperti inilah yang terjadi.

Begitu mengerikan untuk berada di sana, di saat semua bagaikan medan peperangan. Tapi tanpa henti mereka terus bertahan bahkan berani melawan. Entah apa yang merasuki mereka saat itu. Yang pasti kemarahan dan kekesalan yang tidak tertahankan lagi telah mereka luapkan dengan aksi – aksi buruk itu. Bagaimana intelektualitas yang mereka miliki? Bukankah mereka adalah kaum terpelajar yang tidak seharusnya melakukan hal – hal tersebut. Bukankah mereka harus lebih berdiplomasi dan bernegosiasi secara damai?

Inilah bentuk “hati nurani” yang telah menyingkirkan semua “teorema intelektual.” Mereka membuang semua embel – embel “terpelajar” dan semua atribut yang tegas melarang mereka berbuat buruk. Tapi sekali lagi, berterima kasihlah kepada mereka. Mereka rela menjatuhkan semuanya, meruntuhkan harga diri sebuah intelektual hanya “demi memperjuangkan rakyat.” Mereka sungguh pahlawan Indonesia. Hanya demi rakyat.

Mereka korbankan jiwa dan darah mereka.

Sungguh, demi rakyat…

Tidakkah kita berterima kasih pada mereka? Seandainya mereka tidak ada, siapa lagi yang dengan lantang akan berada di garis paling depan murni demi rakyat? Siapa yang bisa dipercaya di zaman penuh kepentingan seperti sekarang ini?

Sekali lagi kuucapkan, “terima kasih para pendemo…” 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s